Jumat, 02 November 2007

Things I Learnt from Sarah (2)


Hari ini jalan-jalan untuk bersilahturahmi ke rumah adik-adik asuh yang merayakan Idul Fitri. Pertama-tama ke tempatnya Dicky, kemudian ke tempat Sarah, dan ke rumah-rumah lainnya. Seharian penuh. Capek! Waktu tiba di rumah Sarah, kami menghabiskan waktu bercakap-cakap dengan ibunya.

Dengan wajah berseri-seri, ibu Sarah bercerita bahwa ia sangat bangga dengan perkembangan anaknya saat ini, sebelumnya ia tidak pernah berpikir bahwa Sarah bisa sedemikian ‘pandai’ seperti saat ini. Ia berterimakasih karena Sarah dan adik-adiknya boleh menjadi bagian dari pelayanan kami dan bahwa ia bisa merasakan kebaikan dari kesempatan Sarah bersama kami.

Tiba-tiba aku berpikir, alangkah berdosanya aku jika begitu cepat menyerah menghadapi Sarah atau adik-adik lainnya. Kacamata yang digunakan untuk melihat mereka seharusnya adalah kacamata kasih. Bukan sekedar prasyarat-prasyarat pendidikan formal yang harus dicapai tetapi juga menghargai setiap detail proses yang ada di dalamnya, karena Tuhan-nya dan Tuhan-ku mengatakan:

“Sebab Engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau”

Seharian penuh bersentuhan dengan kehidupan langsung adik-adik asuh adalah pengalaman berharga bagiku dan bagi kakak-kakak asuh yang lain. Satu kebahagiaan melihat sinar pengharapan di mata keluarga-keluarga mereka sekaligus satu kesadaran mengenai apalah artinya kami dan betapa kecilnya hal yang dapat kami lakukan bagi pergumulan mereka yang besar jika bukan Tuhan saja yang berkarya!!

Tuhan jadikan kami alat kasih-Mu!

Minggu, 14 Oktober 2007
GS

Tidak ada komentar: