Hari itu aku kebagian mengajar Sarah, just Sarah, dan ini interaksi langsung pertamaku dengan Sarah.
Sekilas mengenai Sarah: adik asuh yang satu ini baru bergabung dalam pelayanan adik asuh kurang lebih setahun terakhir, itupun fluaktuasi kehadirannya timbul tenggelam. Kelas 6 SD. Bukan jenis yang suka tampil ke depan, bukan pula yang menarik diri dan minta perhatian ekstra. Sarah ya Sarah, dia hanya seperti Sarah yang adalah Sarah, tidak memiliki suatu ketertarikan atau penolakan tertentu yang kuat, dia hanya Sarah yang menanti dengan tatapan yang kadang-kadang kosong sehingga membuatku sulit memasuki alam pemikirannya.
”Oke Sarah, sebelum kita mulai belajar, aku ingin tahu sampai dimana pelajaranmu di sekolah?”, lalu Sarah membolak-balik buku Matematikanya. ”Bilangan bulat dan faktorisasi prima?”, ”Sudah kak”, ”Celcius, Farenheit, Rehmur?”, ”Sudah kak”, ”Oh good! Terakhir itu yang kakak ajarkan buat Mila”.
”Saya tidak mengerti yang ini, kak!”, jarinya menunjuk pada pelajaran tentang pengukuran bangun ruang. Aku mengambil sebuah kotak dan menunjuk apa yang disebut ’rusuk’, ’sisi’, ’panjang’, ’lebar’, ’tinggi’. Sarah kebingungan. Aku menunjuk bidang persegi panjang dan menanyakan bagaimana ia dapat mengetahui luasnya. Sarah semakin kebingungan. Oh no! Naga-naganya ada yang salah!
Jadi, aku tinggalkan pelajaran tentang bangun ruang dan beralih ke pelajaran sebelumnya yaitu bangun datar!
Untung saja hari itu persediaan kesabaranku sedang melimpah ruah. Aku tidak bisa membayangkan anak kelas 6 SD yang sebentar lagi akan ujian tidak tahu bagaimana mengukur luas persegi empat, bahkan juga tidak tahu mana yang disebut panjang dan mana yang disebut lebar. Herannya, bangun datar masih nol besar sudah minta diajari mengenai bangun ruang. Ampun deh! Untungnya setelah dua jam yang sangat melelahkan, Sarah mulai memahami mengenai berbagai bangun datar dan tahu cara menghitung luasnya walaupun harus berkali-kali melihat contoh.
Tetapi hari itu, bukan cuma Sarah yang belajar. Aku juga belajar.
Bukankah Sarah hanya potret diriku sendiri?! Bukankah aku sering meminta pada Sang Mahaguru Kehidupan untuk memberikan aku sesi yang lebih ’advanced’, aku selalu merasa sudah katam pada pelajaran-pelajaran hidup kelas ’elementary’ dan ’intermediate’ padahal ketika diuji, aku harus kembali dan kembali lagi dari awal karena Sang Mahaguru lebih tahu apa yang kuperlukan.
So, terima kasih Sarah untuk kesempatan belajar tentang kehidupan!
Sabtu, 3 Oktober 2007.
GS
Jumat, 02 November 2007
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar