POTM 2007 mengambil tema ”MENGELOLA KEUANGAN RUMAH TANGGA” dan difasilitasi oleh rekan-rekan dari YAPARI sebagai narasumber dan kak Martha sebagai moderator. Pada saat yang bersamaan di ruang yang berbeda, sebagian kakak juga disibukkan dengan ’Kelas Aktivitas’ untuk adik asuh. Puji Tuhan! Karena dengan jumlah personil yang terbatas kedua kegiatan ini dapat berjalan dengan baik. Khusus untuk sarasehan, ”MENGELOLA KEUANGAN RUMAH TANGGA”, berikut catatan singkatnya:
- Pertanyaan inti yang sering menjadi masalah utama para keluarga kurang mampu pada umumnya adalah, ”Mengapa ketika biaya sekolah sudah ditanggung pemerintah, para orang tua tetap merasa kesulitan dan kepayahan dalam memenuhi kebutuhan hidup?”.
- Pertama-tama dijabarkan kebutuhan sehari-hari apa yang harus dipenuhi menurut para orang tua. Mereka menyebutkan: kebutuhan makan, biaya sekolah, biaya kesehatan, dsb. Kebanyakan orang tua juga bercerita bahwa mereka bekerja sebagai pemulung dan para ibu bekerja sebagai penyapu jalan atau hanya membantu suami sehari-hari (ada juga yang bekerja sebagai pencuci baju harian ataupun paruh waktu). Nah, yang menjadi kendala utama mereka adalah penghasilan yang tidak tetap (itu membuat mereka kesulitan dalam memenuhi kebutuhan), terlebih dengan kondisi hidup di Jakarta, yang semuanya serba sulit dan untuk mendapat apapun penuh ketidakpastian serta mesti bersaing keras (baca: berebutan).
- Dalam sarasehan ini setiap orangtua dibagikan lembaran uang senilai seribu dan diajak berpikir apa yang dapat digunakan dengan uang seribu rupiah kemudian uang-uang tersebut dikumpulkan sejumlah sekian puluh ribuan dan kembali diajak berpikir apa yang dapat digunakan dengan jumlah sedemikian. Tentu saja uang Rp. 1.000,- beda besar artinya dengan Rp.20.000,- (jauh lebih banyak kebutuhan yang bisa dipenuhi dengan Rp. 20.000,- dibanding Rp.1.000). Narasumber juga cukup berhasil membuat orangtua untuk kembali berpikir bahwa Rp.200,- perak pun yang tadinya dianggap kurang berarti, ternyata jika dikumpulkan bisa menjadi sangat-sangat berarti (coba perhatikan deh, ini penekanan kesadaran awal, karena pada umumnya mereka bukannya tidak tahu, tapi hanya kurang aware untuk hal dasar seperti ini). Orangtua diajak membayangkan, jika mereka bisa menyisihkan Rp.200,- dari budget belanja mereka sehari-hari (misal: untuk menumis mereka kurangi dari menggunakan 1 siung bawang menjadi ½ siung bawang saja). Jika orangtua mampu menyisihkan Rp.200,- dari (misal) Rp.10.000,- maka dalam sebulan akan terkumpul Rp. 6.000,-. Nah, kakak-kakak yang baik, inti sebenarnya sarasehan ini untuk mengajak orangtua melakukan 1 hal yang bisa merubah banyak hal dan besar artinya yaitu: menabung/menyisihkan uang.
- Contoh berikutnya: Jika seseorang mengumpulkan Rp.1.000/hari dalam sebulan, maka hasil akhirnya adalah Rp. 30.000,- namun jika hal tersebut dilakukan beramai-ramai maka dapat terkumpul sekitar Rp.200.000/bulan. Jadi, mereka diajak untuk mengumpulkan uang namun dibuat agak berbeda dari menabung biasa yaitu membentuk kelompok dimana mereka bisa bersama-sama menabung dan uangnya dipercayakan pada seseorang yg dapat dipercaya (seperti bank berjalan). Mereka diajak untuk bisa konsisten & berkemauan besar mengumpulkan uang, tiap saat/kapanpun ada uang sekecil apapun lebih baik diserahkan kepada penyimpan uang tersebut. Itu sebabnya akan jauh lebih baik jika kelompok ini dibentuk di area yg sama (supaya tdk memerlukan ongkos). Dengan sistem kolektif seperti ini akan sangat menolong jika salah seorang anggota tiba-tiba memerlukan dana agak besar.
- Sumber dana mana yang dapat direlokasi untuk tabungan? Berikut ini adalah dana-dana yang sering dikeluarkan tanpa perhitungan tetapi bila dijumlahkan besarannya lumayan, yaitu: uang jajan, uang rokok, dan uang belanja.
- Dengan sistem tabungan kolektif ini, jika suatu ketika ada anggota yang sedang dalam kesulitan dan sangat membutuhkan uang dapat tertolong. Intinya adalah perputaran uang (mengenai bunga dan tenggat waktunya semua dialaskan pada kesepakatan bersama dalam kelompok tersebut). Kelompok ini (biasa disebut KSM) dapat terus dimatangkan. Berbeda dengan koperasi, KSM mengharuskan anggotanya untuk datang (tidak hanya uangnya). Karena kelompok ini juga dibuat dengan tujuan bersama dan berkumpul, saling sharing, menambah pengetahuan (misalnya membahas berbagai kreativitas, kewirausahaan, kesehatan, dsb.) Setelah KSM terbentuk, diharapkan ada: - Uang pangkal, - Uang tabungan pokok, - Simpanan Wajib, dan - Tabungan sukarela.
- Pengurus (yang dipercayakan menyimpan uang), harus dipilih diluar anggota kelompok tsb dan harus bisa dipercaya.
Respon orangtua adik asuh:
- Para orangtua adik asuh sangat tertarik dengan cara baru & solusi untuk membantu mengelola keuangan yang dilontarkan para pembicara dari YAPARI. Bahkan mereka langsung menanyakan kapan tindak lanjut ini dapat direalisasikan dan meminta para kakak asuh untuk menjadi pengurus karena menganggap para kakak asuh dapat dipercaya. Sebagai pengurus, peran yang dijalankan adalah sebagai pemegang tabungan dan sebagai mediator yang mendampingi saat kelompok ini membuat kebijakan dan sama sekali bukan penentu kebijakan itu sendiri.
Jadi untuk semua kakak asuh, ini adalah PR kita bersama. Sangat tidak mungkin untuk sekedar menggulirkan solusi dalam meringankan permasalahan para orangtua adik asuh tanpa bersedia turut berproses bersama mereka. Bagi mereka, cuma kakak-kakak yang mereka punya.
Semua usulan, pertimbangan dan masukan silahkan di share dan pastikan semua kakak menggumulkan hal ini dalam doa.
God bless us!
sincerite,
CN.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar